hit counter script

3752349645?profile=RESIZE_710x

Nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mengkhawatirkan rencana pemindahan ibu kota ke kawasan ini. Bukan hanya karena tempat mencari ikan yang bakal dikuasai kapal besar, bahan untuk membuat kapal tradisional pun diprediksi akan semakin langka.

"Dari mana kami mengambil kayu. Kayu kayu dalam hutan dikelola di sana. Mereka kan sudah duduki, bagaimana sudah nanti banyak orang. Jelas merak sudah yang manfaatkan dan kami kesulitan," ujar nelayan dari kampung Jenebora, Penajam Paser Utara, Sahide (63), saat ditemui CNNIndonesia.com, Jumat (22/11).

Menurutnya, kondisi saat ini saja aktivitas perusahaan di Teluk Balikpapan sudah ramai. Apalagi jika nanti jika ibu kota benar benar sudah dipindahkan ke tempat mereka.

"Sekarang ini saja kami sudah susah mencari ikan. Bagaimana nanti jika ibu kota ada di sini? Pasti tambah susah dan sempit karena tambah ramai kapal hilir mudik," ucap Sahide, yang juga merupakan pembuat perahu tradisional di Jenebora.

Di masa sebelumnya, ia menyebut mencari ikan di wilayah ini bukan pekerjaan sukar. Pasalnya, jumlah ikan masih melimpah serta tak ada kapal besar dari luar daerah.

"Jangan ditanya sebelum ramai perusahaan di sini, kami berdayung saja ke seberang kampung mencari ikan. Pagi pergi, sebelum pukul 12 siang sudah pulang ke rumah. Sudah bawa banyak ikan. Ikan 10 kilogram sekali pergi melaut tidak susah. Orang dapat udang 40 kg. Sekarang 5 kilogram saja susah," ujar Sahide.

Nelayan lainnya, Mauluddin, mengungkapkan kehadiran ibu kota akan semakin mengganggu kehidupan Nelayan di Teluk Balikpapan. Sebab, pembangunan akan berimbas pada pembabatan hutan, yang merupakan gudang bahan pembuat perahu tradisional.

Ia mengaku nelayan di Jenebora rata rata menggunakan kapal kecil ukuran 3 Gross Ton (GT) dengan panjang 5 meter dan lebar 90 cm. Perahu ini dibuat dari kayu yang diproduksi sendiri oleh nelayan Jenebora. Rata rata perahu mereka diganti setelah 10 tahun.

"Jangan ditanya sebelum ramai perusahaan di sini, kami berdayung saja ke seberang kampung mencari ikan. Pagi pergi, sebelum pukul 12 siang sudah pulang ke rumah. Sudah bawa banyak ikan. Ikan 10 kilogram sekali pergi melaut tidak susah. Orang dapat udang 40 kg. Sekarang 5 kilogram saja susah," ujar Sahide.

Nelayan lainnya, Mauluddin, mengungkapkan kehadiran ibu kota akan semakin mengganggu kehidupan Nelayan di Teluk Balikpapan. Sebab, pembangunan akan berimbas pada pembabatan hutan, yang merupakan gudang bahan pembuat perahu tradisional.

Ia mengaku nelayan di Jenebora rata rata menggunakan kapal kecil ukuran 3 Gross Ton (GT) dengan panjang 5 meter dan lebar 90 cm. Perahu ini dibuat dari kayu yang diproduksi sendiri oleh nelayan Jenebora. Rata rata perahu mereka diganti setelah 10 tahun.

Menanggapi hal itu, Mauluddin pun bertanya soal maksud "mengeksploitasi dan memperindah teluk". Ia sepakat jika yang dimaksud Suharso ialah memelihara ekosistem teluk, seperti mempertahankan hutan mangrove-nya.

"Kalau bisa pemerintah jangan membabat mangrove, sebabnya mangrove itu tempat kepiting, udang, ikan bertelur. Kalau bisa masyarakat dan pemerintah kita sama sama menjaga," ucap dia.

"Kalau mangrove mau dibabat, kasihan nelayan kecil seperti kita ini, mau kemana lagi berusaha?" pungkas Mauluddin.

(sumber : CNN Indonesia)

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Bangun Sumatera to add comments!

Join Bangun Sumatera

ORDER NOW!!!

ORDER NOW!!!